Artikel ini hanya buah pikiran yang gue usahakan untuk berada di titik yang paling netral yang berdasar pada data terkait kondisi Indonesia

Intro

Katanya akan ada kerusuhan besar. Katanya ekonomi Indonesia akan hancur. Katanya kita sedang menuju krisis.

Bahkan hal-hal kecil mulai dikaitkan dengan narasi tersebut.

Salah satunya adalah ketika beberapa mall besar memasang pagar tinggi. Banyak yang langsung mengaitkannya dengan kemungkinan terjadinya demo besar dalam waktu dekat.

Mungkin saja ada alasannya. Tapi kalau kita lihat faktanya, pihak Pakuwon sendiri sudah memberikan klarifikasi bahwa pagar tersebut bukan karena adanya ancaman kerusuhan.

Dari sini gue jadi kepikiran:

Sebenarnya, seberapa buruk sih kondisi saat ini?

Apakah kita benar-benar sedang menuju downfall?

Atau sebenarnya kita sedang menghadapi masalah ekonomi yang serius, tetapi narasi yang beredar di internet membuat semuanya terlihat jauh lebih buruk daripada kenyataannya?

Gue nggak punya jawaban pasti.

Tapi gue coba melihatnya dari beberapa hal yang menurut gue paling penting: Rupiah, cadangan devisa, harga minyak, ketahanan energi, sampai bagaimana kita sebagai masyarakat bisa menjaga nilai aset kita.

Rupiah yang melemah

Kalau mau melihat apakah kondisi ekonomi Indonesia benar-benar sedang seburuk yang ramai dibicarakan, salah satu hal pertama yang menurut gue perlu kita lihat adalah Rupiah. Sepanjang 2026, Rupiah memang mengalami tekanan yang cukup besar. Rupiah yang pada awal tahun masih berada di kisaran 16.600 per USD sempat melemah hingga mendekati 18.000 per USD.

Ini tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.

Ketika Rupiah melemah, barang-barang yang kita impor menjadi lebih mahal. Dan karena Indonesia masih membutuhkan banyak barang dari luar negeri, pelemahan Rupiah pada akhirnya bisa ikut memengaruhi inflasi dan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Lalu muncul pertanyaan yang cukup sederhana:

Bukannya Bank Sentral (BI) bisa intervensi?

Tentu bisa. Bank Sentral memiliki amunisi yang disebut dengan devisa. Devisa Indonesia per Juli 2026 adalah $145.3 Miliar. Devisa sebesar ini cukup untuk 5,5 bulan impor. Apakah ini sedikit? tidak juga. Angka ini masih berada di atas standar global devisa yang ada di 3 bulan impor.

Lalu kenapa tidak ada intervensi dari BI biar IDR menguat kan semua hepi? Kita coba lihat di tahun 2008 ketika GFC (Global Financial Crisis). Setelah Lehman Brothers runtuh pada September 2008, Bank Indonesia secara agresif melakukan intervensi untuk mempertahankan IDR terlalu cepat, akibatnya cadangan devisa terkuras dengan cepat tanpa mampu membalikkan tren pelemahan IDR. Pada akhirnya IDR melemah 30% dalam 2 bulan. Bahkan BI sendiri yang mengakui itu di dokumen Review Penerapan Inflation Targeting Framework (Halaman 101)

Coba bayangkan kamu ada di pertarungan. Kamu nggak tau lawan kamu sekuat apa kamu punya jurus pamungkas tapi jurus itu akan menguras banyak tenaga kamu. Kalau jurus itu langsung kamu keluarkan di awal saat lawan masih punya banyak tenaga, kamu hanya akan membuang buang tenaga dan kemungkinan kamu kalah akan semakin besar. Strategi untuk melawan yang masuk akal adalah bertahan, membaca ritme pertarungan, lalu mengeluarkan jurus tersebut ketika lawan mulai kelelahan dan serangannya melemah. Dengan begitu kemungkinan untuk menang akan jauh lebih besar.

Itulah salah satu alasan kenapa bank sentral biasanya tidak menggunakan seluruh cadangan devisanya hanya untuk mempertahankan satu level kurs. Tujuan intervensi biasanya bukan untuk membuat mata uang kembali kuat, melainkan meredam volatilitas dan menjaga agar pelemahannya tetap terkendali.

Menghambur-hamburkan devisa untuk intervensi IDR terlalu cepat bukanlah ide yang bagus.

Tapi kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah:

Kenapa Rupiah bisa mendapat tekanan sebesar ini sejak awal?

Tentu ada banyak faktor. Tapi menurut gue, salah satu faktor yang paling menarik untuk dibahas adalah sesuatu yang mungkin kelihatannya nggak ada hubungannya dengan nilai tukar:

minyak.

Kenapa Harga Minyak Sangat Berpengaruh?

Salah satu faktor terbesar menurut gue penyebab melemahnya IDR yang sangat signifikan di semester pertama 2026 itu adalah akibat dari perang di Iran yang menyebabkan harga minyak naik drastis. Minya WTI naik dari $60 per barrel ke kisaran lebih dari $100 per barrel.

Kenapa kenaikan ini sangat berdampak? Karena minyak bukan cuma soal harga BBM di SPBU. Minyak punya efek berantai ke hampir seluruh ekonomi.

Indonesia masih sangat bergantung pada minyak, sementara produksi dalam negeri sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Akibatnya, ketika harga minyak dunia naik, kita harus mengeluarkan lebih banyak USD untuk membayar impor minyak. Dan dari sinilah lingkaran setannya dimulai.

Indonesia bergantung ke minyak (BBM) 
↓
Produksi minyak domestik tidak cukup memenuhi kebutuhan
↓
Indonesia harus impor minyak
↓
Impor dibayar menggunakan USD
↓
Permintaan USD meningkat
↓
IDR mendapat tekanan
↓
Harga impor minyak semakin mahal
↓
Inflasi meningkat
↓
Beban subsidi energi meningkat
↓
Tekanan terhadap APBN meningkat

Ketika harga minyak naik gila-gilaan, dampak dari lingkaran setan ini ke kurs IDR dan APBN juga semakin besar. Mau BBM yang kita pakai adalah non-subsidi atau lebih parahnya lagi BBM subsidi, lingkaran setan ini akan terus berputar sampai adanya perubahan masif dari sisi konsumsi BBM.

Lalu apa solusinya? Salah satu solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM adalah mempercepat elektrifikasi transportasi.

Indonesia dulu pernah menjadi net eksportir minyak dan bahkan menjadi anggota OPEC. Tapi itu dulu. Seiring produksi minyak domestik menurun sementara kebutuhan energi terus meningkat, Indonesia akhirnya berubah menjadi net importir minyak dan keluar dari OPEC.

Gue masih ingat dulu ketika di masa pemerintahan presiden 07, saat pertama kali Insentif dan proses peralihan dari mobil ICE ke mobil EV ini mendapat kecaman dari berbagai lapis masyarakat dan NGO. Mulai dari katanya nguntungin 9 naga doang, oligarki lah, dll yang narasinya terus digoreng di media.

Sekarang? lihat ketika minyak (BBM) naik, yang kena dampak paling signifikan ya mereka-mereka juga. Banyak orang yang nggak tahu bahwa lingkaran setan dari impor dan subsidi BBM tidak akan bisa diputus tanpa perubahan masif dari penggunaan minyaknya.

Gimana Cara Melindungi Nilai Asset

Terus buat precaution supaya nilai aset kita aman apa? apakah kita tukar mayoritas uang kita ke USD aja?

Jawabannya sebenarnya sangat mudah.

GOLD — Emas

Untuk orang-orang yang sudah tidak percaya dengan Rupiah menurut gue pilihan yang paling rasional dan aman justru ada di emas bukan USD. Emas memang bukan aset tanpa risiko. Tapi secara historis, emas merupakan salah satu aset yang banyak digunakan untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang.

Kalau disimpan dalam USD siapa tau dalam 5-20 tahun ke depan USD malah melemah. Jadi kalau tujuan kita adalah menjaga nilai aset, emas adalah pilihan yang paling aman.

Sebagai referensi sedikit, saat artikel ini ditulis malah sudah menunjukan tren penguatan rupiah. Sekarang XAUUSD ada di angka $4.268. Artikel ini akan menjadi bukti gimana pergerakan emas di masa depan. Bisa naik berapa kali ya…

Kenapa Bukan USD?

USD adalah mata uang suatu negara. Memang benar negara itu adalah negara yang sangat kuat dari sisi ekonomi. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa nilai kurs USD bisa melemah dibandingkan kurs mata uang dari negara lain.

Melebar sedikit yaa… Tapi ini contoh gambaran bahwa mata uang pun sebenarnya bisa diatur kok.

Mungkin banyak yang tidak aware bahwa pada Juli 30-31 2026 kemarin ada sebuah kejadian yang sudah lama tidak terjadi sejak beberapa dekade lalu di dunia forex. BOJ (Bank of Japan) dan Scott Bessent (US Treasury Secretary, menkeu-nya US lah) mengkonfirmasi bahwa mereka sedang melakukan joint intervension kurs USDJPY (Sumber BBC News). Akibatnya Yen menguat drastis 4% dalam 2 hari. DXY (US Dollar Index) juga melemah 1.5%.

Ini menjadi contoh bahwa nilai mata uang bisa dipengaruhi oleh kebijakan negara, bahkan ketika berhadapan dengan pasar forex yang sangat besar.

Sebenarnya ada cerita yang menarik terkait intervensi oleh kedua negara itu. Sebuah cerita yang mengarah ke kejadian Plaza Accord, tapi daripada melebar kemana-mana mungkin bisa kita simpan untuk artikel selanjutnya hehehe.

Nah, ini bukan berarti USD adalah mata uang yang buruk. USD masih menjadi mata uang cadangan dunia. Tetapi poin gue adalah USD tetaplah mata uang fiat yang nilainya dipengaruhi oleh kebijakan suatu negara. Tidak menutup kemungkinan nilai USD akan terus melemah di masa depan. Apalagi beberapa negara besar juga mulai mengurangi ketergantungannya terhadap USD dalam perdagangan.

Berbeda dengan emas yang tidak diterbitkan oleh pemerintah negara mana pun dan tidak bisa “dicetak” sesuai kebutuhan kebijakan fiskal atau moneter. Karena itu, kalau tujuan gue adalah menjaga nilai aset dalam jangka panjang, pilihan gue tetap emas

So, Apakah Indonesia benar-benar akan hancur? Gue rasa tidak.

Masalah tetap ada dan jelas nggak sedikit. Tapi menurut gue, daripada ikut panik melihat berbagai narasi yang beredar, lebih baik kita pahami dulu apa yang sebenarnya terjadi dan siapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Udah terlihat pada mulai berbenah juga dari masalah-masalahnya.

Dan kalau pada akhirnya gue harus memilih satu aset untuk menjaga daya beli dalam jangka panjang? Gue tetap pilih emas. Bukan karena gue tahu masa depan akan seperti apa. Justru karena gue nggak tahu.