Gambaran Sosial Media Saat Ini

Pernah nggak merasa kenapa dua orang bisa melihat peristiwa yang sama, tetapi memiliki kesimpulan yang benar-benar berbeda?

Sebagian jawabannya mungkin bukan karena mereka membaca fakta yang berbeda, tetapi karena mereka melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda. Cara pandang ini dibentuk oleh pengalaman, nilai-nilai, keyakinan, dan informasi yang mereka terima sepanjang hidup mereka.

Dulu, informasi yang kita terima datang dari orang sekitar, televisi, buku, atau surat kabar. Pilihannya terbatas dan relatif sama untuk setiap orang.

Sekarang, sebagian besar dari kita menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial.

Bangun tidur, kita membuka media sosial.

Menunggu sesuatu, kita membuka media sosial.

Di perjalanan, kita membuka media sosial.

Tanpa sadar, media sosial tidak lagi sekadar tempat kita berinteraksi. Tapi sudah menjadi sumber informasi utama bagi orang-orang.

Mungkin sekarang sudah lebih dari separuh informasi yang masuk ke kepala kita berasal dari media sosial. Sebenarnya hal ini tidak serta-merta berarti hal buruk. Dengan media sosial kita bisa mendapatkan informasi dengan sangat cepat.

Tapi di lain sisi ada sebuah perantara yang sering sekali luput dari radar penggunanya. Perantara ini diam-diam menentukan informasi apa yang paling sering muncul di hadapan kita.

Perantara itu adalah algoritma.

Di sinilah letak masalahnya.

Algoritma tidak memiliki konsep benar atau salah. Ia juga tidak punya tugas memastikan kita mendapat informasi yang paling akurat.

Tujuannya jauh lebih sederhana: membuat kita bertahan lebih lama di dalam aplikasinya.

Semakin lama perhatian kita bertahan, semakin berhasil algoritma tersebut menjalankan tugasnya.

Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari apa yang menarik perhatian kita. Ketika kita berhenti menyimak konten lebih lama, memberi like, komen, share, maka algoritma ini menganggap itu sebagai sinyal bahwa kita tertarik dengan topik tersebut

Besoknya, kemungkinan besar ia akan menunjukkan konten yang serupa, Lusa lebih banyak lagi, Minggu depan lebih banyak lagi selama menurut dia kita masih tertarik dengan topik itu.

Lama-kelamaan, timeline kita dipenuhi oleh sudut pandang yang semakin seragam. Fenomena ini dikenal sebagai echo chamber.

Seolah-olah semua orang memiliki pendapat yang sama dengan kita. Padahal informasi yang sampai ke kita sudah difilter sedemikian rupa oleh algoritma agar menampilkan apa yang sesuai dengan pikiran kita. Tidak peduli benar atau salah.

Masalah ini tidak berhenti sampai di situ

Semakin sering kita melihat sebuah opini atau informasi. Lama-kelamaan, otak kita akan menganggapnya sebagai hal yang wajar, umum, bahkan benar.

Bayangkan seseorang berhenti karena tertarik pada satu video tentang sulitnya ekonomi saat ini. Awalnya mungkin ia hanya penasaran. Namun akibat penasaran itu, keesokan harinya timeline-nya mulai dipenuhi tentang konten gelombang PHK. Lalu muncul konten turunnya daya beli. Disusul berita kebutuhan pokok yang naik. Sampai melihat prediksi resesi. Sebagian besar informasi tersebut mungkin adalah fakta. Tapi karena hanya narasi tersebut yang terus muncul, lama-kelamaan ia bisa mulai merasa bahwa itulah gambaran utuh kondisi ekonomi saat ini.

Di lain sisi, orang lain sering melihat konten bisnis, investasi atua perkembangan teknologi. Timeline yang ia lihat akan dipenuhi oleh kisah perusahaan yang tumbuh, kisah orang yang berhasil berbisnis dan peluang baru.

Keduanya hidup di negara yang sama.

Keduanya hidup di waktu yang sama.

Keduanya melihat kondisi ekonomi yang sama.

Namun keduanya akan memiliki kesimpulan yang sangat berbeda berdasarkan informasi yang sering masuk ke kepala mereka.

Bukan karena algoritma berbohong. Ia hanya menjalankan tugasnya untuk terus menunjukkan apa yang menurutnya ingin kita lihat.

Fenomena ini bahkan memiliki nama dalam psikologi, yaitu Illusory Truth Effect. Fenomena ini menjelaskan kenapa kita akan cenderung mudah menganggap suatu informasi atau berita sebagai kebenaran hanya karena informasi tersebut diulang-ulang, meskipun sebenarnya informasi itu salah.

Ini bukan kesalahan kita, memang seperti itulah otak kita bekerja.

Yang jadi masalah adalah ketika hal seperti ini jika tidak disadari oleh kita. Ini menjadi bumerang sendiri terhadap informasi yang kita konsumsi. Ketika kedua hal di atas bertemu, kita tidak hanya mengonsumsi sebuah informasi. Secara tidak sadar otak kita akan membangun gambaran dunia berdasarkan informasi yang paling sering kita lihat.

Tulisan ini lahir dari keresahan melihat kondisi media sosial saat ini.

Rasanya semakin sulit menemukan ruang untuk benar-benar memahami sudut pandang yang berbeda. Yang lebih sering terjadi justru saling menguatkan keyakinan masing-masing.

Bukan berarti salah satu pihak selalu benar dan pihak lainnya selalu salah. Bisa jadi keduanya sedang melihat dunia yang berbeda. Bukan karena realitasnya berbeda, tetapi karena informasi yang sampai kepada mereka juga berbeda.

Dan ketika algoritma terus memperkuat perbedaan itu setiap hari, jurang di antara keduanya menjadi semakin lebar.

Kita masih bisa memilih untuk sesekali keluar dari timeline kita sendiri, membaca pendapat yang berbeda, dan mengingat bahwa apa yang muncul di layar kita bukanlah gambaran utuh tentang dunia.

Pada akhirnya, cara pandang kita tidak hanya dibentuk oleh apa yang kita percayai tapi juga dibentuk oleh apa yang terus-menerus kita lihat.

Mungkin kita tidak hidup di dunia yang berbeda. Kita hanya hidup di timeline yang berbeda.